Subsidi Pupuk dari Masa ke Masa, SBY vs Jokowi Besar Mana?

Buruh angkut pelabuhan mengangkut karung pupuk subsidi dari kapal saat bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (5/4/2021). Kementrian Pertanian mengungkapkan bahwa realisasi penyaluran pupuk subsidi telah mencapai 1,9 juta ton atau setara 21% dari alokasi tahun 2021 sebesar 9,04 juta ton dan 1,5 juta liter pupuk organik cair.
 (CNBC.Indonesia/ Tri Susilo)

Subsidi pupuk kerap menjadi persoalan. Anggaran yang besar kerap tidak sejalan dengan output pertanian ataupun upaya pemerintah dalam mendukung pembangunan pertanian.

Kebijakan subsidi pupuk bertujuan untuk mencapai peningkatan akses petani untuk membeli pupuk dalam jumlah yang sesuai dengan dosis anjuran pemupukan dan meningkatkan produktivitas serta produksi https://rtpnada4d.com/ pertanian. Semua itu dilakukan dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan nasional.

Lantas bagaimana pergerakan anggaran subsidi pupuk selama ini? Simak datanya pada grafik.

Berdasarkan data di atas sejak presiden Jokowi menjabat pada Oktober 2014 anggaran subsidi pupuk langsung melesat.

Lihat saja pada tahun 2015, anggarannya langsung naik Rp 31,3 triliun. Meski pergerakan tiap tahunnya fluktuatif namun angkanya masih berada di atas Rp 25 triliun.

Sepanjangkepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)periode 2005-2014, realisasi belanja subsidi pupuk nasional berkisar antara Rp1 triliun sampai Rp21 triliun per tahun, dengan rincian seperti terlihat pada grafik.

Jika di rata-ratakan, subsidi pupuk pada era SBY mencapai sekitar Rp13,2 triliun per tahun.

Memang pada dasarnya jika kita melihat data bank dunia harga pupuk urea dunia cenderung fluktuatif bahkan ketika era Jokowi harga pupuk sempat meningkat.

Apalagi adanya ketegangan geoplitik Rusia-Ukraina tahun lalu turut menyerat harga pupuk.

Berdasarkan data Bank Dunia, hargapupuk ureaglobal menurun signifikan dalam setahun belakangan.

Pada April 2022, rata-rata harga pupuk urea yang menjadi acuan di pasar global sempat mencapai US$ 925 per ton, rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Namun, pada April 2023 rata-rata harganya sudah turun 66% (year-on-year/yoy) menjadi US$ 313,38 per ton.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*