SIAPA Connie Rahakundini Sebut Prabowo Cuma 2 Tahun Jadi Presiden? Sempat Jadi Peneliti di Israel

Connie Rahakundini Bakrie membuat kontroversial di Pemilu 2024. Mantan istri dari Letjen (Purn) Djajang Suparman membuat pernyataan menuding Prabowo Subianto cuma menjabat dua tahun jika menjadi presiden.

Connie Rahakundini yang dikenal sebagai pengamat militer ini telah dilaporkan ke Bareskrim Polri atas penyebaran berita bohong oleh Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran.

Connie turut mengatakan bahwa ditawari mobil mewah jika bersedia bergabung dengan TKN Prabowo-Gibran.

Bahkan, katanya, TKN bakal menghadiahkan mobil mewah senilai miliaran rupiah dan jabatan strategis di pemerintahan.

Benarkan Connie memiliki pengaruh besar dalam sebuah kampanye Pilpres?

TKN telah membantah semua pernyataan Connie.

Ketua Tim Kampanye Nasional Prabowo-Gibran, Rosan Roeslani menegaskan bahwa Connie telah menyebarkan berita palsu mengenai pertemuan tersebut.

Dia menyayangkan tindakan Connie, yang seharusnya sebagai seorang akademisi, menyebarkan informasi yang tidak benar “Saya sangat terkejut dan sedih juga karena ini datang dari ibu Connie seorang akademisi mestinya tidak memberitakan yang tidak benar,” ujar Rosan dalam konferensi pers, Minggu (11/1/2024).

Kemudian, mantan Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu menjelaskan tentang pertemuan dengan Connie.

Awalnya, Rosan menyatakan bahwa dia tidak pernah mengenal pengamat militer dan akademisi tersebut.

Rosan melanjutkan dengan mengatakan bahwa pertemuan itu terjadi setelah tim media Prabowo menyampaikan bahwa pihak Connie ingin bertemu dengannya untuk menyampaikan dua hal.

Pertama, berkaitan dengan bergabung dengan kubu Prabowo.

Kedua, keinginan Connie untuk mendapatkan jabatan Wakil Menteri Luar Negeri atau Wakil Menteri Pertahanan.

Namun, Rosan tidak bisa memenuhi permintaan tersebut, karena keputusan terkait jabatan di kabinet sepenuhnya ada di tangan Prabowo. “Jadi itu keinginan dari bu Connie yang disampaikan ke saya ingin menjadi Wamenlu keinginannya atau Wamenhan, dengan pengalaman beliau silahkan disampaikan ke Pak Prabowo,” tuturnya.

Dalam konteks isu Prabowo hanya menjabat selama dua tahun, Rosan menyatakan bahwa informasi tersebut berasal dari Connie. Dalam percakapannya dengan Connie, Rosan menegaskan bahwa dia tidak memikirkan hal tersebut sejauh itu.

“Pernyataan dua tahun itu bukan dari saya. Beliau menyatakan, ‘ini gimana sudah dua tahun atau mungkin lebih cepat kalau….’ Ini pernyataan beliau. Ini kalau tiba-tiba Prabowo. Saya orang intelijen saya bilang, bisa saja Prabowo diracun. Dia bilang begitu. Bisa lebih cepat, itu gimana?”, ujar Rosan menirukan kalimat Connie.

“Saya bilang bu itu tidak pantas sudahlah kita sih tidak ada pikiran ke situ, janganlah itu,” tutur Rosan sambil mencontohkan percakapannya dengan Connie.

Dalam kesempatan tersebut, Rosan juga mengungkap bahwa mereka tidak berhadapan langsung satu sama lain dengan Connie, melainkan ada empat orang yang hadir di lokasi. Dua di antaranya adalah pihak dari Connie dan Ketua Tim Media Prabowo.

“Jadi itu bisa diverifikasi pembicaraan itu, tapi yang saya sayangkan pernyataan bu Connie seorang intelektual di masa tenang ini videonya beredar sangat masif ya di hari ini. Ya kami pun melihat di masa tenang di akhir ini berita hoaks fitnah kepada Prabowo, tim dan sekarang kepada saya,” pungkasnya.

Pengamat Politik Haidar Alw menilai Connie mencoba menggunakan strategi adu domba antara Jokowi dengan Prabowo. Kata Haidar, Connie berharap ada perpecahan antara Prabowo dan Jokowi.

Connie Rahakundini Bakrie, dikenal sebagai seorang ahli militer Indonesia dengan latar belakang akademik. Ia lahir di Bandung pada 3 November 1964 dari Nyi Raden Sekarningsih Ardiwinata dan Dr. Bakrie Arbie.

Ia mengenyam pendidikan strata pertama dari Universitas Birmingham, Inggris, dan Massachusetts Institute of Technology (MIT) Boston, Amerika Serikat, serta gelar S3 dari Universitas Indonesia.

Selain itu, Connie juga memiliki pengalaman pendidikan di APCSS Asia Pasifik Centre for Security Studies, Hawaii, Fu Xi Kang War Academy di ROC, dan Chevening Executive Programme for Democracy and Security di Universitas Birmingham, Inggris.

Ia juga pernah menjadi peneliti senior di NSS Institute of National Security Studies di Tel Aviv, Israel.

Dalam karirnya, Connie sering menjadi panduan kebijakan bagi institusi seperti DPR Komisi 1, DPRD, Kemenkopolhukam, Kemhan, Kemlu, Wantanas, Lemhanas, Wantimpres, dan BIN.

Dia juga menjadi pembicara dalam pertemuan internasional seperti National Defense University di Washington D.C. dan The Delhi Dialogue Meetings, International Slocs Meetings, serta Milsatcom International Meetings di Inggris.

Connie juga terpilih sebagai salah satu dari 22 Future Leaders oleh Massachusetts Institute of Technology Batch 3. Bersama Duta Besar Hasyim Djalal dan Laksamana Kent Sondakh, ia menjadi Board of Trustee dan Presiden di Indonesia Institute For Maritime Studies (IIMS) dan Dewan Pembina di National Air Space and Power Centre of Indonesia (NAPSCI).

Karier Connie semakin gemilang saat ia diangkat sebagai Dewan Pengawas Industri Pertahanan Swasta Nasional.

Selain itu, Connie juga seorang penulis buku yang dikenal lewat karyanya berjudul “Aku adalah Peluru”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*