Mengekor Wall Street, Bursa Asia Seketika Terbang

Kantor pusat KEB Hana Bank di Seoul, Korea Selatan, Kamis, 23 Juli 2020. (AP/Ahn Young-joon) (AP Photo/Ahn Young-joon)

Mayoritas bursa Asia-Pasifik dibuka menguat pada perdagangan Jumat (7/4/2023), mengekor tiga indeks utama Wall Street yang berakhir di zona hijau.

Sebagian bursa saham Asia Pasifik masih buka hari ini sementara mayoritas tutup untuk peringatan Jumat Agung termasuk bursa saham Indonesia.

Per pukul 08:36 WIB, indeks Nikkei 225 Jepang dibuka naik 0,23%, Shanghai Composite China menguat 0,17%, dan Kospi menguat 1,15%. Meskipun, pagi hanya ASX 200 terpantau mengalami koreksi 0,25%.

Penguatan mayoritas bursa Asia-Pasifik ditopang kembali bergairahnya bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street pada perdagangan Kamis kemarin waktu New York.

Indeks Dow Jones menguat tipis 2,57 poin atau 0,01% ke 33.485,29. Indeks Nasdaq menanjak 0,76% atau 91,1 poin ke posisi 12.087,96 dan indeks S&P 500 terapresiasi 14,64 poin atau 0,36% ke 4.105,02.

Salah satu penggerak utama bursa Wall Street adalah data tenaga kerja Amerika Serikat.

Data terbaru menunjukkan jika klaim pengangguran justru turun. Jumlah pekerja yang mengajukan klaim pengangguran berkurang 18.000 menjadi 228.000 pada pekan yang berakhir pada 1 April 2023.

Jumlah tersebut sebenarnya di atas ekspektasi pasar yakni berkisar di 200.000.Salah satu penyebabnya adalah adanya revisi data yang disesuaikan.

Ada revisi ke atas jumlah klaim pengangguran sekitar 48.000 pada pekan sebelumnya menjadi 246.000. AS melakukan penyesuaian perhitungan dari 2018 dan setiap revisi biasanya menghasilkan perhitungan yang lebih tinggi.

Lebih sedikitnya klaim menunjukkan jika data tenaga kerja AS mungkin tidak akan ‘mendingin’ secepat dugaan orang meskipun data sebelumnya justru menunjukkan pemburukan.

Sebelumnya ada laporan pembukaan lapangan kerja (JOLTS) pada Februari 2023 menunjukkan lapangan pekerjaan baru yang terbuka hanya 9,93 juta. Jumlah tersebut anjlok 632.000 dibandingkan Januari 2023.

“Secara terarah, saya pikir langkah lebih tinggi masuk akal, tetapi pada saat yang sama arahnya belum jelas,” kata Angelo Kourkafas, ahli strategi investasi di Edward Jones.

Meskipun demikian, di sisi lain data tenaga kerja yang tidak sepanas sebelumnya maka harapan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) melunak.

Terlihat dari perangkat Fedwatch di mana sebesar 56,5% pelaku pasar melihat The Fed tidak akan menaikkan suku bunga pada pertemuan Mei nanti.

Sedangkan 43,5% yakin bahwa The Fed akan menaikkan suku bunganya sebesar 25 basis poin.

Ekspektasi kenaikan suku bunga tersebut selaras dengan pejabat The Fed tampak masih bersikukuh jika kenaikan suku bunga masih diperlukan untuk meredam inflasi.

Presiden The Fed Cleveland, Loretta Mester mengatakan bahwa menurutnya The Fed masih perlu menaikkan suku bunga lebih lanjut.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*