Hampir Kolaps Lagi, Ini Deretan Masalah Credit Suisse

A sign of Credit Suisse bank is seen on the branch building in Geneva, on March 15, 2023. - Credit Suisse shares nosedived on March 15, 2023, after its main shareholder said it would not provide more funding, with reassuring comments from the Swiss bank's chairman unable to calm the market panic. (Photo by Fabrice COFFRINI / AFP)

Raksasa bank investasi Credit Suisse kembali mengalami krisis. Namun, berkat bantuan Bank Nasional Swiss (SNB), bank asal Swiss tersebut kembali selamat dari potensi kolaps.

Hal tersebut menyusul Credit Suisse mengumumkan akan meminjam hingga 50 miliar franc Swiss atau sekitar Rp772 triliun (kurs Rp 15.440/US$) dari SNB, yang merupakan bank sentral Swiss.

Sebelumnya, pada Rabu (15/3/2023), harga saham Credit Suisse rontok 24,24% ke level terendah usai pasar merespons negatif atas pemberitaan bahwa investor terbesar bank tersebut, Saudi National Bank (SNB), tidak bisa menambah kepemilikan hingga lebih dari 10% lantaran terhalang masalah regulasi.

SNB sendiri mayoritas sahamnya (37,24%) dimiliki oleh dana abadi Arab Saudi (Public Investment Fund/PIF). Sementara kepemilikan saham Credit Suisse oleh SNB mencapai 9,88%.

Anjloknya saham Credit Suisse juga ikut membuat aksi jual besar-besaran bursa saham global.

Indeks saham Eropa STOXX 600 turun 2,92%, FTSE 100 Index (London) ambles 3,83%, Dax (Frankfurt) merosot 3,27% pada perdagangan Rabu.

Bursa saham AS, Wall Street, pun terkena imbas. Indeks Dow Jones turun 0,87%, S&P 500 melorot 0,73% pada Rabu waktu setempat.

Hari ini, efek Credit Suisse juga sampai ke pasar Asia. Indeks Nikkei 225 turun jatuh 1,05%, Hang Seng Hong Kong anjlok 1,51%, Straits Times Singapura melemah 0,60%, Kospi Korea Selatan turun 0,33%.

Dari dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok 1,09% di awal perdagangan.

 

Kerap Bermasalah

Sejatinya, bukan kali ini saja Credit Suisse tersandung masalah.

Setidaknya, sejak 2009 bank tersebut sudah bertindak bak ‘bad boy’ atau ‘anak nakal’ yang kerap melakukan kesalahan.

Berikut daftar permasalahan Credit Suisse sejak 2009, menyitir sejumlah sumber:

– Desember 2009: Didenda US$536 juta (Rp8,27 triliun) karena melanggar sanksi AS terhadap sejumlah negara, seperti Iran, Libya, dan Sudan

– Mei 2014: Didenda US$2,6 miliar (Rp40,14 triliun) karena menghindari pajak AS

– Maret 2021: Credit Suisse rugi $5,5 miliar setelah rontoknya investment fund Archegos Capital Management.

– Maret 2021: Dana Credit Suisse senilai US$10 miliar dibekukan seiring jatuhnya Greensill Capital. Regulator Swiss menemukan bahwa Credit Suisse “secara serius melanggar kewajiban pengawasannya” sebelum keruntuhan Grensill.

Oktober 2021: Credit Suisse membayar sejumlah denda sebesar US$475 juta kepada otoritas Amerika dan Inggris untuk menyelesaikan tuduhan suap dan penipuan sehubungan dengan skandal korupsi Mozambik.

– Maret 2022: Menyusul invasi Ukraina, Financial Times melaporkan, Credit Suisse meminta sejumlah hedge fund dan klien lain untuk menghancurkan dokumen yang menghubungkan oligarki Rusia dengan pinjaman kapal pesiar.

– Juni 2022: Credit Suisse membayar denda $22 juta akibat kasus pencucian uang yang terkait dengan perdagangan kokain oleh jaringan kejahatan terorganisir Bulgaria.

– Maret 2023: Credit Suisse mengakui menemukan kesalahan material dalam pelaporan keuangannya selama dua tahun terakhir. Credit Suise akhirnya menunda laporan tahunan untuk mengatasi masalah akuntansi tersebut.

– Maret 2023: Bank Nasional Saudi (SNB), investor terbesar Credit Suisse mengatakan mereka tidak akan memberikan dukungan keuangan lebih lanjut

– Maret 2023: Mengatasi problem likuiditas, Credit Suisse mengajukan Bank Sentral Swiss senilai 50 miliar franc Swiss atau sekitar Rp772 triliun.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*